Pages

Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup

Jumat, 28 Februari 2014

Keceriaan dan Kehangatan Dalam perjalanan menuju tempat yang “Indah dan Unik”

1 jam menjelang magrib, saya masih berada dalam bus dari purwokerto menuju wonosobo dan tepat pukul 18.40 saya telah menginjakan kaki di kabupaten yang terdapat dua gunung berapi di sebelah timurnya dan bagian utara nya berbatasan dengan kawasan dataran tinggi dieng. Di kabupaten wonosobo inilah, aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru mengenai indahnya beradab dan hangatnya berbagi. Tujuanku sebenarnya adalah menuju dieng dan aku harus menggunakan kendaraan umum lagi dari wonosobo. Metromini adalah salah satu kendaraan umum yang masih tersisa untuk aku tumpangi dan ternyata metromini adalah metromini terkahir yang menuju dieng. Tanpa ragu aku langsung masuk ke metromini tersebut. Alhasil, ternyata tempat duduk yang kosong di metromini tersebut tersisa di bagian belakang dan saya pun langsung saja duduk karena tidak ada lagi pilihan. Di kursi belakang sudah duduk terlebih dahulu dua orang nenek yang sedang meminum teh dalam sebuah plastik. Mereka berdua sudah menunggu lama dalam metromini tersebut dan terus berbincang dalam bahasa jawa yang memang saya tidak mengerti. Seketika salah satu dari mereka menengok ke arah saya dan bertanya “darimana?”, langsung saja saya jawab “dari bandung bu” dan si nenek itu langsung membalikkan badan ke arah nenek yang satu lagi sambil tertawa bahagia ketika saya menjawab “dari bandung”. Aku pun bingung kenapa kedua nenek tersebut tertawa dan tersenyum, aku pun hanya bisa tersenyum sambil bingung harus bagaimana. Hehe
            Nenek itu pun bertanya lagi, “mau kemana?”, jawab saya “mau ke dieng”, nenek itu pun langsung meresponnya “dieng? (sambil tersenyum)”, saya pun cepat menjawab pertanyaan tersebut “iya”. Ternyata si nenek tersebut kali ini melontarkan pertanyaan yang unik, “sunda ya?’, jawab saya “iya nek” dan kali ini saya benar-benar bingung, si nenek malah tertawa bahagia sambil memegang teh manis yang ada di plastiknya. Setelah puas tertawa, sang nenek pun mencoba berbicara dengan bahasa sunda untuk bisa melakukan pembicaraan yang enak dengan saya. Sekarang giliran saya yang tertawa tertahan karena sang nenek sangat lucu ketika berbicara memakai bahasa sunda. Meskpin sudah berusia lanjut, kedua nenek ini sangat terlihat ceria sekali, selalu tersenyum ketika aku ajak bicara atau bahkan tertawa bersama dengan saya ketika ada hal lucu yang memang aku dan sang nenek pahami bersama. Ternyata sang nenek akan menuju desa batur, yaitu desa yang berada di ujung kawasan dataran tinggi dieng. Sang nenek terus bercerita tentang kisahnya dulu masih kanak-kanak, ternyata sang nenek pernah tinggal di bandung dan mempunyai menantu orang subang. Pantas saja sang nenek bisa sedikit-demi sedikit berbahasa sunda, meskipun sangat lucu ketika dilantunkan. Setiap hari sang nenek harus pulang sore menjelang malam dari wonosobo menuju dieng. Kedua nenek itu tetap ceria meskipun suasana dalam metromini sangatlah sesak dan bahkan bisa membuat kepala pusing atau bisa juga membuat badan menjadi pegal. Tapi kedua nenek ini tetap berbincang dengan penuh candaan, berbagi cerita dan ketegarannya terlihat dari sorot matanya meskipun sudah usia lanjut tapi kedua nenek tersebut tetap menghormati orang-orang di sekitarnya, tetap menebar senyum dan memberikan kehangatan bagi setiap insan yang berbincang dengannya.


-Di dalam metromini dari Wonosobo menuju Dieng-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar