Hari ini nampaknya
langit memberikan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Pagi hari awan gelap
mulai bergerombol hadir menutupi cahaya sang mentari. Membuat orang-orang
khawatir untuk melaksanakan rutinitasnya karena takut ketika dalam perjalanan
ada hal yang menghalangi nya. Lampu lalu lintas baru saja berwarna merah,
tiba-tiba tetesan air jatuh dari langit yang tidak begitu gelap. Membasahi
tangan, jaket dan juga celana. Memang hanya tetesan tapi ketika jarak yang
ditempuh puluhan kilometer hasilnya tetap saja semuanya akan terbasahi dengan
air. Akhirnya lampu hijau itu menyala, namun hujan semakin deras. Membuatku
harus berteduh di sebuah warung ataupun halte. Hujan membuat semua rencanaku
menjadi berantakan. Menggagalkan semua pertemuanku dan janjiku kepada
seseorang. Derasnya hujan ini membuat badan ini menggigil kedinginan dan
jantung berdetak lebih cepat karena petir yang bergemuruh. Aku tidak tahu harus
berbuat apa ketika hujan turun selain berteduh. Mungkin kamu pun merasakan hal
yang sama. Awalnya kita berencana untuk bertemu di sebuah tempat yang indah
namun hujan menggagalkannya.
Padahal aku ingin memberikan sesuatu kepadamu. Namun
sepertinya akan tertunda. Aku keluarkan handphone untuk bisa berinteraksi
denganmu lewat media sosial yang ada. Hujan membuat suasana menjadi lebih
romantis, airnya membuat hati merasa sejuk. Meskipun tidak berinteraksi
langsung denganmu, aku yakin Allah telah membuat rencana lain dibalik datangnya
hujan. Aku tahu, saat hujan mengguyur kamu sedang menuliskan sebuah nama di
kaca jendela rumahmu yang terbasahi oleh air hujan. Begitupun aku sedang
menuliskan nama di kaca helm yang terbasahi oleh air hujan dan menceritakannya
lewat media sosial favorit kita. Kita saling tertawa dan inilah ceritaku
bersamamu dibalik datangnya hujan. Anugerah yang telah Allah berikan.
(Bandung,
19 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar