Pages

Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup

Kamis, 13 Maret 2014

Jika Dia Seorang Sastra

Buku-buku kosong banyak sekali di kamarku, sampai notebook-notebook yang didapatkan di seminar-seminar pun masih tersusun dengan rapih di atas lemari. Tangan ini sangat sulit untuk digerakkan agar mengisi buku-buku yang kosong tersebut. Mungkin tidak akan pernah terisi buku-buku itu ketika hanya diri ini yang berpikir. Kalau pun hanya aku yang berpikir dan mencari inspirasi mungkin tulisan-tulisan yang aku buat hanya lah sebuah kalimat atau paragraf yang tidak memiliki makna yang mendalam. Hanya membahas bagian luar dari pesan yang akan disampaikan. Maka jika Allah memberikan nama untukku seseorang yang bergerak di bidang kesastraan mungkin dia bisa lebih banyak membantu ku untuk mengisi semua buku-buku kosong itu. Pena itu akan terpakai sepanjang hari bahkan setiap pagi akan terus memandangi tempat matahari terbit. Setiap hari setidaknya ada satu puisi yang tercipta untuk dibacakan bersama dihadapan burung-burung yang sedang hinggap di pagar-pagar rumah maupun di halaman-halaman rumah. Puisi yang dibacakan bersamaan dengan embun pagi yang menetes dari pepohonan. Udara sejuk yang membuat pernafasan semakin nyaman karena puisi yang dibacakan membuat pepohonan menari-nari indah oleh angin yang hadir dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat. Kamu akan mengajarkanku membuat puisi dengan makna yang begitu dalam sehingga langit pun tersenyum dengan warna birunya dan awan pun berjalan begitu lambat karena ingin mendengar puisi yang kita buat.
Kamu pun akan menuliskan sebuah cerita atau deskripsi mengenai hal yang kamu sukai, mendeskripsikan dua burung yang sedang hinggap di genting dan menceritakan perjalanan kita saat menuju sebuah telaga. Di telaga itu, kamu menceritakan bagaimana kekuatan perahu itu seperti kekuatan cinta kita, kekuatan kepercayaan kita kepada Sang Maha Pencipta. Pohon-pohon yang berada di sekitar telaga merupakan sekumpulan masyarakat yang nantinya akan kita temui. Mendayung perahu denganmu seperti mengarungi kehidupan dengan penuh kerja keras, keikhlasan dan kesabaran. Namun senyummu selalu mengobati kelelahan-kelelahan itu. Begitu lah cerita yang kamu buat ketika aku dan kamu berada di sebuah telaga dan itu kamu tuliskan dalam buku yang kamu bawa kemanapun kita pergi. Ketika melewati lorong pepohonan, daun-daun berjatuhan dan seketika itu kamu pun terduduk senyum sambil membuka buku dan menuliskan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang kamu tuliskan, tapi itulah insting seorang sastra. Setiap kejadian yang ada di alam kamu selalu jadikan sebuah cerita atau puisi yang sangat inspiratif.
Ketika di pesisir pantai, kita pun bermain bersama disana. Bermain ombak bersama sambil melihat orang-orang disekitar bermain sepak bola di panati. Memandangi batu karang yang tertabrak oleh kerasnya ombak dan itulah kehidupan. Tidak terasa senja pun tiba, kamu mengajak ku untuk bisa melihat sunset bersama. Ditanganmu tidak pernah lepas satu buah buku dan pena. Sambil menunggu sunset kamu bercerita banyak tentang masa kanak-kanakmu, aku pun tertawa bahagia. Sunset pun tiba dan tanganmu pun mulai bergerak dengan pena tersebut untuk meneteskan tinta pena itu di buku yang kamu pegang. Saat waktunya pulang ke rumah, kamu telah mengisi hampir semua buku yang tadinya kosong, membuat suasana rak buku ku menjadi bermakna. Itu lah jika teman hidupku adalah seorang sastra, akan selalu mengisi buku kehidupanku dengan kata-kata yang bermakna. Membuatkan puisi untukku setiap pagi agar hari-hari ku semakin berwarna. Konsekuensinya, dia akan sangat romantis, penyabar dan selalu ceria.

-Sastra itu Indah-

(Bandung, 13 Maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar