Buku-buku
kosong banyak sekali di kamarku, sampai notebook-notebook yang didapatkan di
seminar-seminar pun masih tersusun dengan rapih di atas lemari. Tangan ini
sangat sulit untuk digerakkan agar mengisi buku-buku yang kosong tersebut.
Mungkin tidak akan pernah terisi buku-buku itu ketika hanya diri ini yang
berpikir. Kalau pun hanya aku yang berpikir dan mencari inspirasi mungkin
tulisan-tulisan yang aku buat hanya lah sebuah kalimat atau paragraf yang tidak
memiliki makna yang mendalam. Hanya membahas bagian luar dari pesan yang akan
disampaikan. Maka jika Allah memberikan nama untukku seseorang yang bergerak di
bidang kesastraan mungkin dia bisa lebih banyak membantu ku untuk mengisi semua
buku-buku kosong itu. Pena itu akan terpakai sepanjang hari bahkan setiap pagi
akan terus memandangi tempat matahari terbit. Setiap hari setidaknya ada satu
puisi yang tercipta untuk dibacakan bersama dihadapan burung-burung yang sedang
hinggap di pagar-pagar rumah maupun di halaman-halaman rumah. Puisi yang
dibacakan bersamaan dengan embun pagi yang menetes dari pepohonan. Udara sejuk
yang membuat pernafasan semakin nyaman karena puisi yang dibacakan membuat
pepohonan menari-nari indah oleh angin yang hadir dengan kecepatan yang tidak
terlalu cepat. Kamu akan mengajarkanku membuat puisi dengan makna yang begitu
dalam sehingga langit pun tersenyum dengan warna birunya dan awan pun berjalan
begitu lambat karena ingin mendengar puisi yang kita buat.
Kamu
pun akan menuliskan sebuah cerita atau deskripsi mengenai hal yang kamu sukai,
mendeskripsikan dua burung yang sedang hinggap di genting dan menceritakan
perjalanan kita saat menuju sebuah telaga. Di telaga itu, kamu menceritakan
bagaimana kekuatan perahu itu seperti kekuatan cinta kita, kekuatan kepercayaan
kita kepada Sang Maha Pencipta. Pohon-pohon yang berada di sekitar telaga
merupakan sekumpulan masyarakat yang nantinya akan kita temui. Mendayung perahu
denganmu seperti mengarungi kehidupan dengan penuh kerja keras, keikhlasan dan
kesabaran. Namun senyummu selalu mengobati kelelahan-kelelahan itu. Begitu lah
cerita yang kamu buat ketika aku dan kamu berada di sebuah telaga dan itu kamu
tuliskan dalam buku yang kamu bawa kemanapun kita pergi. Ketika melewati lorong
pepohonan, daun-daun berjatuhan dan seketika itu kamu pun terduduk senyum
sambil membuka buku dan menuliskan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang kamu
tuliskan, tapi itulah insting seorang sastra. Setiap kejadian yang ada di alam
kamu selalu jadikan sebuah cerita atau puisi yang sangat inspiratif.
Ketika
di pesisir pantai, kita pun bermain bersama disana. Bermain ombak bersama
sambil melihat orang-orang disekitar bermain sepak bola di panati. Memandangi
batu karang yang tertabrak oleh kerasnya ombak dan itulah kehidupan. Tidak
terasa senja pun tiba, kamu mengajak ku untuk bisa melihat sunset bersama.
Ditanganmu tidak pernah lepas satu buah buku dan pena. Sambil menunggu sunset
kamu bercerita banyak tentang masa kanak-kanakmu, aku pun tertawa bahagia.
Sunset pun tiba dan tanganmu pun mulai bergerak dengan pena tersebut untuk
meneteskan tinta pena itu di buku yang kamu pegang. Saat waktunya pulang ke
rumah, kamu telah mengisi hampir semua buku yang tadinya kosong, membuat
suasana rak buku ku menjadi bermakna. Itu lah jika teman hidupku adalah seorang
sastra, akan selalu mengisi buku kehidupanku dengan kata-kata yang bermakna.
Membuatkan puisi untukku setiap pagi agar hari-hari ku semakin berwarna.
Konsekuensinya, dia akan sangat romantis, penyabar dan selalu ceria.
-Sastra itu Indah-
(Bandung,
13 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar