Pages

Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup

Selasa, 18 Maret 2014

Satu Hari Bersamamu

        Selepas shalat tahajud, ayam yang berada di sekitar rumahku berkokok dengan sangat nyaring. Membuat orang-orang yang ada di dalam rumah terbangun dan dengan cepat bergegas ke toilet untuk berwudhu. Perlahan fajar mulai menyingsing, mulai memperlihatkan keindahan cahayanya. Seluruh makhluk hidup gembira menyambutnya, karena setelah gelap malam semuanya mengharapkan hadirnya matahari. Usai shalat subuh, aku coba menengok ke arah taman kecil yang dibuat oleh ayah untuk memberikan keindahan bagi semua penghuni rumah. Aku teringat bahwa aku mempunyai janji bertemu dengan seseorang di sebuah taman kota. Aku bergegas mandi dan sarapan yang telah ibu buatkan. Motor ku sudah mengkilat dan nyaman dipandang. Saatnya memenuhi janji dan bertemu dengan makhluk spesial itu. Dia adalah sahabatku, perempuan yang sangat baik dan patuh terhadap orang tua nya. Mendirikan shalat adalah hobinya, di sepertiga malam dia rajin sekali untuk bersujud kepada Nya. Berpuasa sunnah adalah hal yang paling di senangi, puasa senin-kamis hingga puasa daud. Hari-harinya selalu diselimuti oleh cahaya-cahaya Nya. Rajin berpakaian rapi, menutupi aurat-auratnya. Meskipun tertutup rapi oleh pakaianmu, bunga edelweis pun kalah kecantikannya oleh dirimu.
            Aku sudah sampai di taman kota, tapi kamu belum datang. Aku tunggu selama beberapa menit dan dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang membawa sebuah buku disertai tas yang dipegangnya. Akhirnya kamu datang. Aku tersenyum dan kamu pun tersenyum. Lalu kita duduk di sebuah kursi dan dimulailah perbincangan. Membicarakan mengenai hari-hari yang sudah dilalui dan diselipkan cerita-cerita kocak yang membuat kita saling tertawa. Sudah hampir dua jam kita berbincang, perutku terasa lapar dan memang sudah waktunya makan siang. Karena pada hari itu, kamu pun tidak berpuasa sehingga kita meluncur ke tempat makan yang dekat taman itu. Tempat makan yang terjangkau harganya, nyaman tempatnya agar kita bisa melanjutkan obrolan yang sempat terpotong oleh perut yang lapar. Di waktu sore, aku ingin berjalan-jalan di kota ini. Menikmati udara sore dan panorama senja bersama kamu. Tapi kamu memintaku jangan menggunakan sepeda motor, kamu menginginkanku untuk berjalan kaki. Bagiku tidak menjadi masalah asalkan ada kamu yang menemani setiap langkahku. Melihat bangunan-bangunan kokoh dan pohon-pohon yang berada di sekitar trotoar jalan. Kita pun berteduh sebentar di sebuah pohon yang rindang dan angin menambah kesejukan di sore itu. Menikmati segelas bajigur hangat dan berbagi tawa denganmu.
            Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30 WIB. Waktu itu merupakan batas waktu maksimal kamu bermain diluar rumah. Tapi aku tidak menyalahkan dirimu ataupun orang tuamu karena aku paham maksud dari semua itu. Aku hanya berterima kasih kepadamu karena telah menemaniku selama satu hari ini. Memberikanku cerita baru mengenai kehidupan dan membuatku paham akan arti mencintai lingkungan. Satu hari bersamamu begitu bahagia, apakah hari esok kita masih bisa bersama? Atau mungkinkah Allah akan memberikan setiap harinya untuk kita jalani bersama ? Kita lihat saja nanti.

(Bandung, 18 Maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar