Selepas shalat tahajud,
ayam yang berada di sekitar rumahku berkokok dengan sangat nyaring. Membuat
orang-orang yang ada di dalam rumah terbangun dan dengan cepat bergegas ke
toilet untuk berwudhu. Perlahan fajar mulai menyingsing, mulai memperlihatkan
keindahan cahayanya. Seluruh makhluk hidup gembira menyambutnya, karena setelah
gelap malam semuanya mengharapkan hadirnya matahari. Usai shalat subuh, aku
coba menengok ke arah taman kecil yang dibuat oleh ayah untuk memberikan
keindahan bagi semua penghuni rumah. Aku teringat bahwa aku mempunyai janji
bertemu dengan seseorang di sebuah taman kota. Aku bergegas mandi dan sarapan
yang telah ibu buatkan. Motor ku sudah mengkilat dan nyaman dipandang. Saatnya
memenuhi janji dan bertemu dengan makhluk spesial itu. Dia adalah sahabatku,
perempuan yang sangat baik dan patuh terhadap orang tua nya. Mendirikan shalat
adalah hobinya, di sepertiga malam dia rajin sekali untuk bersujud kepada Nya.
Berpuasa sunnah adalah hal yang paling di senangi, puasa senin-kamis hingga
puasa daud. Hari-harinya selalu diselimuti oleh cahaya-cahaya Nya. Rajin
berpakaian rapi, menutupi aurat-auratnya. Meskipun tertutup rapi oleh
pakaianmu, bunga edelweis pun kalah kecantikannya oleh dirimu.
Aku sudah sampai di taman kota, tapi kamu belum datang.
Aku tunggu selama beberapa menit dan dari kejauhan terlihat seorang wanita
sedang membawa sebuah buku disertai tas yang dipegangnya. Akhirnya kamu datang.
Aku tersenyum dan kamu pun tersenyum. Lalu kita duduk di sebuah kursi dan
dimulailah perbincangan. Membicarakan mengenai hari-hari yang sudah dilalui dan
diselipkan cerita-cerita kocak yang membuat kita saling tertawa. Sudah hampir
dua jam kita berbincang, perutku terasa lapar dan memang sudah waktunya makan
siang. Karena pada hari itu, kamu pun tidak berpuasa sehingga kita meluncur ke
tempat makan yang dekat taman itu. Tempat makan yang terjangkau harganya,
nyaman tempatnya agar kita bisa melanjutkan obrolan yang sempat terpotong oleh
perut yang lapar. Di waktu sore, aku ingin berjalan-jalan di kota ini.
Menikmati udara sore dan panorama senja bersama kamu. Tapi kamu memintaku
jangan menggunakan sepeda motor, kamu menginginkanku untuk berjalan kaki.
Bagiku tidak menjadi masalah asalkan ada kamu yang menemani setiap langkahku.
Melihat bangunan-bangunan kokoh dan pohon-pohon yang berada di sekitar trotoar
jalan. Kita pun berteduh sebentar di sebuah pohon yang rindang dan angin
menambah kesejukan di sore itu. Menikmati segelas bajigur hangat dan berbagi
tawa denganmu.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30 WIB.
Waktu itu merupakan batas waktu maksimal kamu bermain diluar rumah. Tapi aku
tidak menyalahkan dirimu ataupun orang tuamu karena aku paham maksud dari semua
itu. Aku hanya berterima kasih kepadamu karena telah menemaniku selama satu
hari ini. Memberikanku cerita baru mengenai kehidupan dan membuatku paham akan
arti mencintai lingkungan. Satu hari bersamamu begitu bahagia, apakah hari esok
kita masih bisa bersama? Atau mungkinkah Allah akan memberikan setiap harinya
untuk kita jalani bersama ? Kita lihat saja nanti.
(Bandung,
18 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar