Di tengah keramaian
kota, orang-orang berjalan hilir mudik untuk menuju tempat tujuannya. Berjalan dengan
cepat tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Aku meilhat seseoramg yang
sedang duduk di taman kota, sedang menunduk dan matanya tertuju pada buku yang
dipegangnya. Ketika aku melihat jam, ini sudah pukul 22.00 WIB. Aku coba
menghampirinya karena dikhawatirkan rumah
nya jauh sedangkan waktu sudah malam. Ketika aku menghampirinya, dia melihat ke
arahku sambil tersenyum malu. Aku coba memberitahunya kalau ini sudah malam dan
dia harusnya sudah berada di rumahnya karena dia seorang perempuan. Tapi ternyata,
dia mengatakan ingin menikmati udara malam hari, berduaan dengan bintang yang
ada dan jenuh dengan kondisi rumahnya. Rambutnya panjang berwarna hitam sekali.
Berpakaian bergaya barat dan dia seorang muslim. Aku mencoba berbincang
dengannya, menceritrakan tentang apa yang harus dilakukannya untuk
menyembunyikan keindahannya. Aku mencoba menengadah ke langit dan hanya ada
satu bintang di malam itu. Cuacanya cerah malam itu, bulan pun terlihat utuh.
Istilah lama coba aku katakan kepadanya. Apakah kamu tahu
durian? Buah yang selalu hadir di pasar-pasar tradisional ataupun di sepanjang
jalan-jalan kota. Durian itu wangi dan lezat bagi orang-orang yang menyukainya.
Tapi durian tidak pernah tumbuh tanpa cangkangnya, dikelilingi oleh duri-duri
yang tajam sehingga orang-orang harus berhati-hati dalam mengupasnya. Kalau di
supermarket, sering aku lihat durian itu juga dibungkus oleh plastik mengkilat
dan harganya tentu lebih mahal. Begitupun dengan mawar, durinya selalu menjaga dari
orang-orang jahat. Atau yang lebih indah lagi, bunga edelweis yang tidak
ditemukan di dataran rendah. Dia dilindungi oleh pegunungan-pengunungan, oleh
terjal nya jalan dan kabut tebal. Hanya orang-orang yang siap menuju pegunungan
yang bisa melihat nya. Durian, mawar dan edelweis menyunbunyikan keindahannya
dengan memberikan perlindungan yang dimilikinya dan hanya-hanya orang yang siap
yang bisa melihatnya, memegangnya dan membawanya.
Perempuan itu tertunduk dengan buku yang tadi dibacanya
ditutup dengan rapat. Suasana menjadi hening. Aku dan perempuan itu kembali
menghadap ke langit. Aku berkata kembali. Akhir-akhir ini banyak kasus-kasus
kriminalitas yang menyudutkan nama kaum perempuan. Kasus pembunuhan, kasus
pemerkosaan atau kekerasan. Coba kamu belajar seperti bunga dan buah yang aku
sebutkan tadi. Aku tidak tahu apakah kamu itu tahu bahwa dirimu ini cantik atau
tidak. Kamu tidak ingin kan kasus kriminal yang terjadi sekarang-sekarang ini
menimpamu ? berpakaian rapih lah, meskipun itu sulit. Tutup lah rambutmu itu
dengan selembar kain yang memang kamu sukai. Semua itu semata-mat untuk
melindungimu sekarang ini dan sampai nanti. Jangan hanya berharap pada pacar
atau suami, karena kamu pun punya aktivitas yang tidak setiap saat suami atau
pacar itu berada disampingmu. Kamu harus menyembunyikan keindahan-keindahanmu
itu, lindungi keindahanm itu. Jangan sampai orang-orang dengan mudah melihat
keindahanmu. Jadilah seperti edelweis yang hanya dapat dilihat langsung oleh
orang-orang yang mau mendaki pegunungan. Begitupun kamu, jadilah perempuan yang
hanya dapat diliha keindahannya oleh seorang laki-laki yang siap meminangmu. Maka
jadikanlah pendampingmu itu sebagai orang pertama dan terkahir yang mengetahui
keindahanmu.
Malam semakin larut, dia tersenyum dan aku pun tersenyum.
Aku beranjak berdiri dari kursi itu dan perempuan itu pun mulai mendekat pada
sepeda motornya. Perempuan itu mengatakan “meskipun aku tidak tahu diriku ini
cantik atau tidak, tapi keindahan-keindahan lain yang ada pada diriku akan aku
mulai lindungi oleh kekuatan diriku sendiri meskipun nanti aku memiliki seorang
pendamping”. Perempuan itu mulai menyalakan motornya dan perlahan pergi
meninggalkan taman kota dan aku. Aku pun kembali menatap langit danternyata ada
dua bintang sekarang. Indah sekali. Tapi ketika aku beranjak pulang, buku
perempuan tadi tertinggal di kursi taman itu. Ternyata itu adalah buku tentang
menjadi muslimah yang dirindukan surga. Subhanallah. Aku bawa saja buku itu dan
akan kusimpan buku itu di kamar kos ku. Siapa tahu dia adalah nama yang cocok
dengan nama yang sudah Allah persiapkan di langit Nya. Wallahu’alam.
(Bandung,
15 maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar