Pages

Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup

Jumat, 14 Maret 2014

Keindahan yang Tersembunyi

     Di tengah keramaian kota, orang-orang berjalan hilir mudik untuk menuju tempat tujuannya. Berjalan dengan cepat tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Aku meilhat seseoramg yang sedang duduk di taman kota, sedang menunduk dan matanya tertuju pada buku yang dipegangnya. Ketika aku melihat jam, ini sudah pukul 22.00 WIB. Aku coba menghampirinya karena dikhawatirkan  rumah nya jauh sedangkan waktu sudah malam. Ketika aku menghampirinya, dia melihat ke arahku sambil tersenyum malu. Aku coba memberitahunya kalau ini sudah malam dan dia harusnya sudah berada di rumahnya karena dia seorang perempuan. Tapi ternyata, dia mengatakan ingin menikmati udara malam hari, berduaan dengan bintang yang ada dan jenuh dengan kondisi rumahnya. Rambutnya panjang berwarna hitam sekali. Berpakaian bergaya barat dan dia seorang muslim. Aku mencoba berbincang dengannya, menceritrakan tentang apa yang harus dilakukannya untuk menyembunyikan keindahannya. Aku mencoba menengadah ke langit dan hanya ada satu bintang di malam itu. Cuacanya cerah malam itu, bulan pun terlihat utuh.
            Istilah lama coba aku katakan kepadanya. Apakah kamu tahu durian? Buah yang selalu hadir di pasar-pasar tradisional ataupun di sepanjang jalan-jalan kota. Durian itu wangi dan lezat bagi orang-orang yang menyukainya. Tapi durian tidak pernah tumbuh tanpa cangkangnya, dikelilingi oleh duri-duri yang tajam sehingga orang-orang harus berhati-hati dalam mengupasnya. Kalau di supermarket, sering aku lihat durian itu juga dibungkus oleh plastik mengkilat dan harganya tentu lebih mahal. Begitupun dengan mawar, durinya selalu menjaga dari orang-orang jahat. Atau yang lebih indah lagi, bunga edelweis yang tidak ditemukan di dataran rendah. Dia dilindungi oleh pegunungan-pengunungan, oleh terjal nya jalan dan kabut tebal. Hanya orang-orang yang siap menuju pegunungan yang bisa melihat nya. Durian, mawar dan edelweis menyunbunyikan keindahannya dengan memberikan perlindungan yang dimilikinya dan hanya-hanya orang yang siap yang bisa melihatnya, memegangnya dan membawanya.
            Perempuan itu tertunduk dengan buku yang tadi dibacanya ditutup dengan rapat. Suasana menjadi hening. Aku dan perempuan itu kembali menghadap ke langit. Aku berkata kembali. Akhir-akhir ini banyak kasus-kasus kriminalitas yang menyudutkan nama kaum perempuan. Kasus pembunuhan, kasus pemerkosaan atau kekerasan. Coba kamu belajar seperti bunga dan buah yang aku sebutkan tadi. Aku tidak tahu apakah kamu itu tahu bahwa dirimu ini cantik atau tidak. Kamu tidak ingin kan kasus kriminal yang terjadi sekarang-sekarang ini menimpamu ? berpakaian rapih lah, meskipun itu sulit. Tutup lah rambutmu itu dengan selembar kain yang memang kamu sukai. Semua itu semata-mat untuk melindungimu sekarang ini dan sampai nanti. Jangan hanya berharap pada pacar atau suami, karena kamu pun punya aktivitas yang tidak setiap saat suami atau pacar itu berada disampingmu. Kamu harus menyembunyikan keindahan-keindahanmu itu, lindungi keindahanm itu. Jangan sampai orang-orang dengan mudah melihat keindahanmu. Jadilah seperti edelweis yang hanya dapat dilihat langsung oleh orang-orang yang mau mendaki pegunungan. Begitupun kamu, jadilah perempuan yang hanya dapat diliha keindahannya oleh seorang laki-laki yang siap meminangmu. Maka jadikanlah pendampingmu itu sebagai orang pertama dan terkahir yang mengetahui keindahanmu.
            Malam semakin larut, dia tersenyum dan aku pun tersenyum. Aku beranjak berdiri dari kursi itu dan perempuan itu pun mulai mendekat pada sepeda motornya. Perempuan itu mengatakan “meskipun aku tidak tahu diriku ini cantik atau tidak, tapi keindahan-keindahan lain yang ada pada diriku akan aku mulai lindungi oleh kekuatan diriku sendiri meskipun nanti aku memiliki seorang pendamping”. Perempuan itu mulai menyalakan motornya dan perlahan pergi meninggalkan taman kota dan aku. Aku pun kembali menatap langit danternyata ada dua bintang sekarang. Indah sekali. Tapi ketika aku beranjak pulang, buku perempuan tadi tertinggal di kursi taman itu. Ternyata itu adalah buku tentang menjadi muslimah yang dirindukan surga. Subhanallah. Aku bawa saja buku itu dan akan kusimpan buku itu di kamar kos ku. Siapa tahu dia adalah nama yang cocok dengan nama yang sudah Allah persiapkan di langit Nya. Wallahu’alam.

(Bandung, 15 maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar