Tatkala matahari hadir untuk menerangi bumi di siang hari
dan bulan yang menerangi bumi di malam hari. Matahari dan bulan memberikan
harapan pada jiwa-jiwa yang hidup untuk menjelajahi seluk beluk kehidupan.
Sebenarnya matahari dan bulan ku saat ini telah meninggalkan tempatku menimba
ilmu, dahulunya mereka berada dalam satu bidang keilmuan yang sama. Setiap hari
aku selalu bertemu dengan mereka, berjabat tangan sambil tersenyum rindu kepada
mereka. Matahari ku dulu hanya tiga tahun masa pendidikannya sedangkan bulan ku
masa pendidikannya empat tahun. Tetapi mereka dalam satu angkatan yang sama dan
jaraknya dua tahun dariku. Matahari itu selalu mengajarkanku tentang arti
keikhlasan dalam bekerja, dia selalu bersama masyarakat sekitar untuk
berbincang-bincang mengenai kehidupan para warga meskipun kuliah sampai sore
tapi dia tetap melakukan itu. Bercanda dengan adik-adik kelasnya dan terus
membimbing sampai adik-adik kelasnya itu bisa mandiri. Beliau tidak pernah
memandang orang dalam segi harta ataupun status tapi dia selalu merangkul
orang-orang yang ingin memberikan kontribusinya bagi masyarakat. Hal yang
paling aku ingat ketika bersama matahari itu adalah ketika harus memotong bambu
untuk membuat obor dalam memperingati tahun baru islam, sangat terlihat sekali
bagaimana wajahnya yang sangat ceria padahal yang bekerja disana hanya beberapa
orang, aku sendiri malas untuk mengerjakannya. Tapi beliau selalu
mengingatkanku tentang kesabaran dalam bekerja untuk membuat wajah-wajah
masyarakat tersenyum. Semangatnya sangat membara seperti panasnya matahari,
selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi masyarakat meskipun rintangannya
banyak. Harus pulang larut malam dengan baju yang basah oleh keringat atau
bahkan ada tetesan darah yang menetes pada jalan-jalan yang dilaluinya.
Kesederhanaannya membuat ku kagum, dia tidak pernah mengeluh meskipun mendapat
tempat tinggal yang berbeda seperti mahasiswa umumnya. Apalagi di bidang
akademiknya, sangat berprestasi sekali bahkan diakhir masa pendidikannya beliau
bisa mengikuti PIMNAS dan mendapatkan IPK yang hampir cum laude. Dia pernah
memberikanku amanah tapi aku tidak dilepas begitu saja akan tetapi dia selalu
mendampingiku untuk mejalankan amanah-amanah yang dia berikan. Selalu berbagi
cerita dengannya, makan bersama bahkan menyusuri gelapnya jalanan kampus pun
pernah kita lakukan.
Tidak hanya matahari yang selalu mendampingi segala
aktivitasku, tapi bulan pun perannya sangat besar dalam memberikan penerangan
hidup kepadaku. Bekerja dalam kesunyian, menciptkan gelora kepahlawanan setiap
aku sedang bersama bulan. Dia memang humoris, sering tersenyum duluan sebelum
ada obrolan tapi kedekatanku dengan beliau bagaikan adik dan kaka. Malam hari
aku suka bermain ke tempat dia beristirahat, menceritakan hal-hal yang kualami
selama seminggu. Dia memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi sehingga dia
tahu apa yang sebetulnya saya rasakan dan karena itu juga dia menjadi orang
yang asik dan selalu nyaman ketika berdialog dengannya. Mempunyai cita-cita
yang besar juga untuk umat ini bahkan dia juga selalu memperhatikan kondisi
adik-adik nya ketika itu. Aku sering meminjam buku-bukunya yang begitu
inspiratif dan kadang aku juga pernah menginap di kosannya. Dulu tujuanku
menginap hanya ingin menonton sepak bola di TV bersamanya, namun hasilnya aku
ketiduran. Aku selalu ingat senyumannya yang khas da bimbingannya yang begitu
lembut kepada adik-adik kelasnya terutama kepadaku. Dia juga yang selalu
menyemangatiku ketika aku menjadi seorang pemimpin, yang memberikan
nasihat-nasihat agar aku menjadi pemimpin yang baik, agar aku bisa
memperhatikan seluruh anggotaku sepertinya hal nya dia yang selalu
memperhatikanku. Beliau memberikanku pupuk islam yang begitu lembut dan siraman
air iman yang begitu sejuk.
Saat ini matahari dan bulan sudah terjun di dunia yang
berbeda denganku, sekarang mereka sudah berada di suatu tempat yang begitu
besar yang didalamnya terdapat peralatan-peralatan yang dulu mereka pelajari.
Tapi aku tidak merasa sedih karena aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka
dan semakin memanas obrolan sekarang ini. Membicarakan masa depan yang selalu
membuatku bersemangat. Siapakah matahari dan bulan itu? Langit pun tersenyum
ketika nama mereka disebut oleh orang-orang yang pernah bersamanya. Matahari
itu adalah Kang Ferry Aldina, Amd dan Bulan itu adalah Kang Mohammad Galih
Perdana, SST. Aku kagum dengan mereka berdua, disamping kita satu rumpun ilmu,
kita pun satu organisasi baik intra maupun ekstra. Jika saja aku tidak bertemu
dengan kalian, maka saat ini aku hanya termenung dalam gelapnya zaman dan
mungkin akan terombang-ambing oleh kerasnya arus pemikiran. Aku sangat
berterima kasih kepada kalian, mungkin saat ini adalah fasa yang amat sulit
bagi kalian tapi aku yakin sebentar lagi akan datang dari langit berita bahagia
tentang kalian. Kalian adalah matahari dan bulan ku. Bahagia sekali memiliki
dua orang yang menginspirasi hidupku, dua orang yang memiliki visi besar bagi
umat dan dua orang yang selalu memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang
ada disekitarnya. Salam Cinta dari jiwa yang pernah kalian sinari dengan
kelembutan cahaya kalian. Sampai kapanpun kalian tetap matahari dan bulan ku
yang cahayanya akan terus terasa kepada jiwaku.
-Teruntuk Kang Ferry Aldina,
Amd dan Kang Mohammad Galih Perdana, SST-
(Bandung,
09 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar