Pages

Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup

Minggu, 09 Maret 2014

Gelora Matahari dan Sunyi Bulan


            Tatkala matahari hadir untuk menerangi bumi di siang hari dan bulan yang menerangi bumi di malam hari. Matahari dan bulan memberikan harapan pada jiwa-jiwa yang hidup untuk menjelajahi seluk beluk kehidupan. Sebenarnya matahari dan bulan ku saat ini telah meninggalkan tempatku menimba ilmu, dahulunya mereka berada dalam satu bidang keilmuan yang sama. Setiap hari aku selalu bertemu dengan mereka, berjabat tangan sambil tersenyum rindu kepada mereka. Matahari ku dulu hanya tiga tahun masa pendidikannya sedangkan bulan ku masa pendidikannya empat tahun. Tetapi mereka dalam satu angkatan yang sama dan jaraknya dua tahun dariku. Matahari itu selalu mengajarkanku tentang arti keikhlasan dalam bekerja, dia selalu bersama masyarakat sekitar untuk berbincang-bincang mengenai kehidupan para warga meskipun kuliah sampai sore tapi dia tetap melakukan itu. Bercanda dengan adik-adik kelasnya dan terus membimbing sampai adik-adik kelasnya itu bisa mandiri. Beliau tidak pernah memandang orang dalam segi harta ataupun status tapi dia selalu merangkul orang-orang yang ingin memberikan kontribusinya bagi masyarakat. Hal yang paling aku ingat ketika bersama matahari itu adalah ketika harus memotong bambu untuk membuat obor dalam memperingati tahun baru islam, sangat terlihat sekali bagaimana wajahnya yang sangat ceria padahal yang bekerja disana hanya beberapa orang, aku sendiri malas untuk mengerjakannya. Tapi beliau selalu mengingatkanku tentang kesabaran dalam bekerja untuk membuat wajah-wajah masyarakat tersenyum. Semangatnya sangat membara seperti panasnya matahari, selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi masyarakat meskipun rintangannya banyak. Harus pulang larut malam dengan baju yang basah oleh keringat atau bahkan ada tetesan darah yang menetes pada jalan-jalan yang dilaluinya. Kesederhanaannya membuat ku kagum, dia tidak pernah mengeluh meskipun mendapat tempat tinggal yang berbeda seperti mahasiswa umumnya. Apalagi di bidang akademiknya, sangat berprestasi sekali bahkan diakhir masa pendidikannya beliau bisa mengikuti PIMNAS dan mendapatkan IPK yang hampir cum laude. Dia pernah memberikanku amanah tapi aku tidak dilepas begitu saja akan tetapi dia selalu mendampingiku untuk mejalankan amanah-amanah yang dia berikan. Selalu berbagi cerita dengannya, makan bersama bahkan menyusuri gelapnya jalanan kampus pun pernah kita lakukan.
            Tidak hanya matahari yang selalu mendampingi segala aktivitasku, tapi bulan pun perannya sangat besar dalam memberikan penerangan hidup kepadaku. Bekerja dalam kesunyian, menciptkan gelora kepahlawanan setiap aku sedang bersama bulan. Dia memang humoris, sering tersenyum duluan sebelum ada obrolan tapi kedekatanku dengan beliau bagaikan adik dan kaka. Malam hari aku suka bermain ke tempat dia beristirahat, menceritakan hal-hal yang kualami selama seminggu. Dia memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi sehingga dia tahu apa yang sebetulnya saya rasakan dan karena itu juga dia menjadi orang yang asik dan selalu nyaman ketika berdialog dengannya. Mempunyai cita-cita yang besar juga untuk umat ini bahkan dia juga selalu memperhatikan kondisi adik-adik nya ketika itu. Aku sering meminjam buku-bukunya yang begitu inspiratif dan kadang aku juga pernah menginap di kosannya. Dulu tujuanku menginap hanya ingin menonton sepak bola di TV bersamanya, namun hasilnya aku ketiduran. Aku selalu ingat senyumannya yang khas da bimbingannya yang begitu lembut kepada adik-adik kelasnya terutama kepadaku. Dia juga yang selalu menyemangatiku ketika aku menjadi seorang pemimpin, yang memberikan nasihat-nasihat agar aku menjadi pemimpin yang baik, agar aku bisa memperhatikan seluruh anggotaku sepertinya hal nya dia yang selalu memperhatikanku. Beliau memberikanku pupuk islam yang begitu lembut dan siraman air iman yang begitu sejuk.
            Saat ini matahari dan bulan sudah terjun di dunia yang berbeda denganku, sekarang mereka sudah berada di suatu tempat yang begitu besar yang didalamnya terdapat peralatan-peralatan yang dulu mereka pelajari. Tapi aku tidak merasa sedih karena aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka dan semakin memanas obrolan sekarang ini. Membicarakan masa depan yang selalu membuatku bersemangat. Siapakah matahari dan bulan itu? Langit pun tersenyum ketika nama mereka disebut oleh orang-orang yang pernah bersamanya. Matahari itu adalah Kang Ferry Aldina, Amd dan Bulan itu adalah Kang Mohammad Galih Perdana, SST. Aku kagum dengan mereka berdua, disamping kita satu rumpun ilmu, kita pun satu organisasi baik intra maupun ekstra. Jika saja aku tidak bertemu dengan kalian, maka saat ini aku hanya termenung dalam gelapnya zaman dan mungkin akan terombang-ambing oleh kerasnya arus pemikiran. Aku sangat berterima kasih kepada kalian, mungkin saat ini adalah fasa yang amat sulit bagi kalian tapi aku yakin sebentar lagi akan datang dari langit berita bahagia tentang kalian. Kalian adalah matahari dan bulan ku. Bahagia sekali memiliki dua orang yang menginspirasi hidupku, dua orang yang memiliki visi besar bagi umat dan dua orang yang selalu memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Salam Cinta dari jiwa yang pernah kalian sinari dengan kelembutan cahaya kalian. Sampai kapanpun kalian tetap matahari dan bulan ku yang cahayanya akan terus terasa kepada jiwaku.

-Teruntuk Kang Ferry Aldina, Amd dan Kang Mohammad Galih Perdana, SST-

(Bandung, 09 Maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar