Area taman seringkali
di idam-idamkan oleh banyak orang. Taman yang dihiasi oleh bunga-bunga yang
bervariasi warnanya, bentuknya bahkan baunya. Apalagi ketika di halaman rumah
kita memiliki taman bunga-bunga itu, alangkah segarnya mata ini ketika
memandangnya dibalik jendela kamar yang terbasahi oleh embun pagi ataupun oleh
gelapnya malam. Biasanya kita memiliki bunga spesial yang selalu kita perhatikan
dan selalu ingin dipetik ketika bunga itu mekar. Selalu memberinya air,
memberinya pupuk terbaik di nusantara atau bahkan pupuk terbaik di dunia,
pandangannya tidak pernah sedikit pun lepas dari bunga yang dispsesialkannya.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun
bunga itu selalu diperhatikan begitu spesial, mungkin mata, hati dan pikirannya
sudah di set bahwa memperhatikan pertumbuhannya adalah prioritas utama dalam
hidupnya. Ingin sekali bunga itu cepat tumbuh dan mekar, namun hasrat itu
seringkali sirna. Karena pemandangan yang diimajinasikan membutuhkaan waktu
yang terlalu lama namun ketika ditunggu pun belum tentu akan seindah dengan apa
yang kita imajinasikan.
Sehingga muncul ambisi untuk membuktikan bahwa bunga itu
akan tumbuh dengan cepat. Memberikan air dengan volume yang begitu besar dan
pupuk dengan jumlah yang begitu banyak. Maka seluruh pikiran nya pun tertuju
pada bunga yang ingin cepat dia tumbuhkan. Setiap saat, saat pagi hari, setelah
pulang sekolah bahkan di malam hari keadaan bunga itu selalu dia cek. Apa yang
terjadi, apakah bunga itu akan tumbuh dengan cepat ketika volume air dan jumlah
pupuk diberikan dalam dosis yang berlebih? Dan apakah ketika seluruh perhatian
dan pikiran ditujukan pada bunga itu lalu bunga itu akan tumbuh dengan cepat
juga? Kemungkinan besar bunga itu akan tertunduk layu dan lenyap di tanah
halaman kita. Memang sedih ketika bunga yang diidam-idamkan ternyata malah
meninggalkan kita, tetapi ada satu hal yang menarik di halaman itu.
Esok hari, ketika hati masih diselimuti perasaan sedih
tiba-tiba tanah mulai bergetar seperti akan mengeluarkan sesuatu. Ternyata
muncul bibit bunga baru yang perlahan tumbuh di halaman kita, bentuknya masih
kecil dan perasaan kita menganggap bunga itu tidak menarik dibandingkan bunga
spesialnya yang sudah mati. Seiring berjalannya waktu, bunga itu tumbuh dengan
perlahan, membesar tanpa adanya perhatian. Ketika mentapnya di pagi hari
rasanya sangat nyaman, padahal bunga itu sama sekali tidak diharapkan
keberadaannya. Tapi mengapa setiap menatapnya, hati ini terasa tentram? Pikiran
ini terasa jernih? Dan rasanya ingin sekali menikmati hari-hari dengan duduk
bersama bunga itu. Padahal dia tidak pernah memberikannya air dengan volume
yang begitu besar dan jumlah pupuk yang begitu banyak. Hanya cahaya matahari
yang sedikit dan tetesan hujan yang menemani hari-hari bunga yang tidak
diharapkan itu.
Aku mengerti sekarang, mencintai dalam diam adalah
sesuatu hal yang indah. Sama halnya seperti kisah Ali dan Fatimah. Ketika
mencoba memberikan segala yang dimiliki itu belum tentu akan menjadikan dia
sebagai teman hidup. Memberikan perhatian yang ekstra dan terus membayangi
hidupnya itupun belum tentu berujung pada kursi pelaminan. Biarkan bunga itu
tumbuh dengan kemampuannya, ketika seluruh yang kita miliki kita berikan dan
ternyata pada akhirnya bunga itu bukan untuk kita. Apa perasaan kita? Sedih?
Senang? Bahagia? Mungkin jawabannya sudah terlihat dari wajah yang mengkerut
dan mata yang meneteskan air mata. Terkadang jodoh itu seperti bunga yang tidak
diharapkan, dia akan tumbuh dengan sendirinya meskipun aku tidak pernah
memperdulikannya. Bunga itu akan hadir memberikan kesejukan pada mata yang
memandangnya. Karena cinta bukan seberapa lama keakraban yang dibangun, bukan
karena kedekatan yang tekun melainkan ada kecocokan jiwa di dalamnya.
Mulai saat ini, aku akan membiarkan bunga ku tumbuh
dengan kemampuannya. Aku tidak mau memberikan perhatian yang begitu ekstra dan
membayangi selalu kehidupanmu. Karena aku takut kamu muak denganku, aku takut
menghalangi kebebasanmu. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk menjelajahi
seluk beluk kehidupan ini dengan sekemampuanmu, dengan segala tenaga yang kamu
miliki. Biarkan tali persahabatan ini yang mengikat kita saat ini agar kita
bisa bersama-sama bercerita dengan leluasa, berbagi tawa dan makan di tempat
yang bernuansa sunda ataupun eropa. Karena bunga yang indah adalah bunga yang
selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah, meskipun cahaya matahari
yang sedikit, tetesan hujan dan sedikit pupuk yang diberikan. Semoga kita
dipertemukan dalam taman yang begitu indah dan kamu adalah bunga yang tumbuh
dengan baik tanpa aku harapkan sebelumnya.
-Untuk bunga yang
sedang tidak aku harapkan-
(Bandung,
13 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar