Duduk di sebuah bangku
panjang di pagi hari diiringi oleh alunan melodi yang begitu indah. Alunan lagu
yang berisikan makna-makna kehidupan, romantika cinta dan religi. Terkadang
mendengarkan lagu-lagu lawas lebih menyenangkan daripada lagu-lagu saat ini.
Namun suka dibilang norak atau ketinggalan zaman ketika gaya penyanyi terdahulu
disukai. Lagu-lagu terdahulu dibuat atas dasar perasaan yang sedang dirasakan,
kekhawatiran terhadap realita kehidupan ataupun terhadap kondisi pribadi yang
belum optimal. Bukan hanya suara merdu, namun syair nya pun memiliki kandungan
nasehat bagi para pecinta musik ataupun bagi masyarakat umumnya. Sebetulnya,
musik daerah memiliki nilai kebudayaan yang luhur, menjunjung persatuan dan
mengobarkan api semangat para pemuda dan pemudi daerah bahkan pemuda-pemudi
Indonesia. Syair yang dibuat ketika masa-masa sulit, masa penuh dengan tekanan
fisik dan batin namun tetap memiliki kualitas syair yang tidak lekang oleh
waktu. Perkembangan musik indonesia semakin pesat yang membuat musik daerah
menjadi kurang diminati, seolah-olah ingin dihilangkan. Lebih modern, lebih
banyak variasi dan lebih merdu. Saat ini, syair yang dibuat atas dasar apa?
Saking modern nya, banyak yang lipsing sekarang. Berarti apakah hanya raga nya
yang ingin diperlihatkan? Ditambah bumbu tarian yang tidak jelas asal usulnya.
Yang aku pahami, menyanyi adalah menyampaikan pesan ataupun nasehat lewat syair
yang disuarakan dengan suara yang seindah-indahnya. Apakah masih ada suara
merdu putra-putri bangsa?
-Selamat Hari Musik
Nasional-
(bandung,
09 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar