Asean
Free Trade Area (AFTA) merupakan bentuk kesepakatan
dari negara-negara di ASEAN untuk membentuk suatu kawasan perdagangan bebas di
Asia Tenggara guna meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN. AFTA
lahir di Singapura pada tahun 1992 saat pertemuan tingkat Kepala Negara ASEAN
(ASEAN Summit ke-4). Pada tahun 2003 di Bali, kembali diadakan pertemuan kepala
negara ASEAN dan disepakati 3 (tiga) pilar untuk mewujudkan ASEAN VISION 2020
yang dipercepat menjadi tahun 2015, yaitu : (1) ASEAN Economic Community, (2) ASEAN
Political-Security Community dan (3) ASEAN
Socio-Cultural Community. Namun, tidak hanya persaingan antar negara ASEAN
saja karena tiga raksasa Asia pun terlibat dalam arus perdagangan bebas ini
yaitu China, Korea Selatan dan Jepang bahkan India dan Australia pun meramaikan
arus perdagangan bebas ASEAN ini.
SDM
kita sudah siapkah?
Tahun 2015 akan menjadi pertarungan ekonomi global yang
secara tidak langsung akan terjadi perang pemikiran yang begitu hebat juga.
Poin yang paling penting untuk diperhatikan dalam hal ini adalah Sumber Daya
Manusia (SDM) bangsa kita karena mau bagaimana pun yang akan menjadi obyek
utama dalam persaingan ekonomi global adalah manusianya. Ketika SDM menjadi
poin pentingnya maka hal itu berkaitan dengan pembinaan dan juga pendidikan.
Kondisi pendidikan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, bukan karena anak
didik nya jarang berprestasi dan juga bukan karena guru-guru nya sering tidak
masuk tapi karena nilai-nilai ketuhanan di kawasan pendidikan di Indonesia
telah berkurang. Bangsa ini bercita-cita untuk menciptakan masyarakat yang
bermoral dan berbudi pekerti luhur namun pada kenyataannya ruhaniyah para anak
didik kurang terbina oleh guru-guru di sekolah ataupun oleh pemerintah. Sehingga
ketika 2015 itu hadir maka akan banyak arus pemikiran-pemikiran yang datang dari
luar negeri yang bisa saja membuat SDM kita ini lemah bahkan jasa dan
pemikirannya kalah bersaing dengan orang luar negeri. Sebetulnya yang menjadi
permasalahan adalah bukan kapasitas dalam ilmu sains dan teknologi akan tetapi
dalam hal ilmu ketuhanan yang menyebabkan anak didik bangsa ini banyak
melakukan pelanggaran hukum seperti narkoba, minuman keras, pemerkosaan,
pencurian atau bahkan sampai bertengkar (tawuran) antar sekolah. Hal paling
kecil saja seperti kedisiplinan dalam masuk jam sekolah ataupun dalam
berpakaian masih saja dilanggar dengan mengutarakan berbagai banyak alasan yang
tidak masuk akal. Inilah yang dimaksud sekularisasi pendidikan, anak didik kita
bahwa kehidupan duniawi dan agama itu tidak perlu dicampur adukkan padahal dua
aspek itu saling berkaitan erat dalam kehidupan ini. Contoh yang tadi
dipaparkan seperti narkoba sampai perkelahian itu pertanda bahwa anak didik
bangsa ini kurang mendapatkan pemahaman mengenai hal-hal itu yang berkorelasi
dengan nilai-nilai ketuhanan. Tentu saja ini tidak terlepas dari peran sang
pendidik pula untuk bagimana memberikan arahan mengenai itu karena kalau hanya
mengandalkan pelajaran agama yang hanya dua jam/minggu itu akan sangat amat
sulit untuk bisa memahamkan anak didik kita. Ada hal yang dikhawatirkan ketika
AFTA itu hadir yaitu ketika kondisi masih seperti ini dan pemahaman orang luar
Indonesia ini terus mengalir deras terhadap anak didik kita maka identitas
bangsa ini akan semakin tidak jelas. Cita-cita pendidikan bangsa ini yaitu
menciptakan masyarakat yang bermoral, bermartabat dan berbudi pekerti luhur
akan semakin sulit untuk diwujudkan karena sesungguhnya identitas bangsa kita
ini bangsa yang beragama Akan sulit untuk mencegah arus pemikiran orang luar
negeri ketika nilai-nilai ketuhanan itu sedikit disampaikan kepada anak didik
kita. Jika pelajaran agama sulit untuk ditambahkan jam nya, maka dianjurkan
kepada tenaga pendidik nya untuk bisa menyampaikan dan membina anak didik nya
meskipun bukan seorang guru agama karena hal itu yang sangat relevan dengan
kondisi bangsa Indonesia saat ini. Atau akan lebih baik jika pelajaran agama
dijadikan pelajaran wajib, ditambahkan jam nya atau bahkan sampai pelajaran
agama ini menjadi mata pelajaran yang ada di Ujian Nasional. Itu akan sangat
membantu mengembalikan identitas bangsa ini yakni bangsa beragama.
Lalu
bagaimana dengan budaya bangsa kita?
Ketika berbicara
pendidikan di awal tadi maka poin yang selanjutnya adalah bagaimana perilaku
bangsa kita atau bisa kita sebut budaya bangsai in yang sudah mulai
terkontaminasi oleh budaya-budaya barat. Dalam segi fashion bangsa ini sudah mulai terjadi pergeseran budaya dalam hal
itu yang biasanya orang-orang timur itu terkenal dengan kesopanan dalam
berpakaian namun saat ini bangsa kita cenderung menggunakan pakaian-pakaian
yang di budaya kita itu sangat tidak sopan dan itu terjadi di kota-kota besar
atau sekarang ini sudah mulai masuk ke daerah-daerah pedesaan. Sangat ironi
ketika hal ini terus terjadi karena sesungguhnya itu bukan budaya kita dan
jelas sekali lagi ini menjadikan identitas bangsa ini menjadi abu-abu. Masih
banyak lagi perihal kebudayaan yang terkontaminasi ini yang menjadi
permasalahan, tidak terbayangkan ketika AFTA itu dimulai maka akan seperti apa
budaya bangsa ini. Perlu ketegasan dari pemerintah terkait hal ini karena AFTA
itu sebentar lagi dan harus secepatnya dibuat sebuah tindakan untuk mencegah
hal itu terjadi yakni budaya indonesia yang semakin tidak jelas. Maka ini pun
perlu kerjasama dengan masyarakat pada umumnya untuk menghadapi AFTA di 2015
nanti, jika tidak sekarang dibuat tindakan-tindakan untuk menghadapi AFTA nanti
maka identitas bangsa ini akan menjadi tidak jelas dan cita-cita bangsa ini
tidak akan pernah terwujud.
“AFTA bukan berarti
bangsa ini akan hancur akan tetapi ini adalah permulaan bangsa ini membuktikan
tentang kualitas dan kekompakannya untuk mewujudkan cita-citanya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar