Pages

Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup

Jumat, 28 Februari 2014

Mungkinkah mereka Putra-Putri harapan bangsa?

Langit yang gelap yang memberikan tetesan air pada hari itu menjadikan suasana semakin dingin ditemani oleh hembusan angin yang membuat tubuh setiap orang harus menggunakan mantel. Pada hari itu, aku sedang menuju sebuah tempat indah yang sedang hangat dibiarakan oleh orang banyak, tempat yang memiliki aliran air yang selalu dirindukan oleh para pengunjung yang telah mendatanginya, memiliki panorama alam yang begitu menyejukkan mata dan hati, namun sepanjang jalan menuju tempat tersebut memiliki keunikan tersendiri. Perjalanan awal yaitu dari Terminal Pasar Antri Baru Cimahi menuju Cililin yang ditempuh menggunakan angkot selama 2 jam. Perjalanan yang sangat melelahkan, namun itu semua belum selesai, aku harus naik kendaraan umum lagi yaitu metromini ke arah Bunijaya. Ketika duduk di metromini tersebut, aku merasakan bahwa aku akan memasuki desa yang begitu indah kehidupannya, sejuk udaranya dan ramah orang-orang nya. Bahagia sekali ketika membayangkan itu di dalam metromini, namun ketika ada penumpang lain masuk, seluruh tubuh saya terdiam dan mata yang tadinya akan aku pejamkan menjadi terbuka kembali. Ternyata penumpang itu adalah sekelompok anak-anak SMP yang pulang dari sekolah nya untuk menuju rumahnya masing-masing menggunakan metromini yang sama denganku. Yang menjadi kekaguman dan keharuan adalah wajah-wajah mereka ketika naik metromini tersebut, meskipun hujan menerjang mereka tetap dengan senang hati dan dengan wajah yang penuh harapan pergi ke sekolah yang menjadi harapan mereka untuk bekal di masa depan. Mereka saling memahami, laki-laki nya mengalah untuk duduk di atas metromini dan membiarkan perempuannya untuk masuk metromini. Mereka rela meskpin mereka hanya duduk di atas metromini bahkan sampai ada yang berdiri di besi belakang metromini. Mata ini berkaca-kaca ketika itu terjadi, putra-putri bangsa yang hidup di pedalaman desa yang masih semangat untuk bersekolah. Meskipun hujan besar, gerimis dan panasnya terik matahari mereka tetap melangkah untuk melakukan kewajiban mereka sebagai warga Negara Indonesia. Ketika melihat kondisi putra-putri bangsa yang berada di kota-kota besar sebagian besar mereka malah menyepelakan hal ini, pergi dari rumah izin ke orang tua untuk pergi ke sekolah namun wujudnya tidak ada di sekolah. Pemandangan yang sangat langka yang aku temui di metromini tersebut dan apakah putra-putri yang berada di desa pedalaman itu adalah putra-putri harapan bangsa? Aku yakin mereka mempunyai Cinta yang sangat besar untuk bangsa ini sehingga suatu saat nanti mereka akan menjadi orang-orang terdepan untuk memperbaiki bangsa ini. Tetap semangat adik-adikku yang sedang menuntut ilmu meskipun kalian berada di pedalaman desa yang sulit dijangkau.

-Perjalanan dari Cililin menuju Bunijaya menggunakan Metromini- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar