Karawang merupakan nama sebuah
kabupaten yang bagi saya memiliki nilai historis yang begitu besar. Ketika saya
masih berada dalam perut ibu sampai pada saatnya saya keluar dari perut ibu
saya, Kabupaten ini lah yang menjadi saksi akan kelahiran saya. Tidak hanya
kelahiran saya, tetapi kedua adik saya pun lahir di kabupaten yang termaktub
dalam puisi Chairil Anwar. Rumah pertama ini memang bukan milik ayah saya, akan
tetapi rumah ini adalah rumah yang kakek saya pinjamkan untuk dihuni sementara
oleh keluarga saya. Maka dari sinilah perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi
keluarga besar yang hidup mandiri, berbagi pada sesama dan taat pada Allah SWT.
Ayah yang berprofesi sebagai guru
Matematika dan Ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Kami selalu
diajarkan membaca Al-Quran selepas salat magrib oleh ibu dan terkadang ayah pun
selalu membawa kan makanan ringan setelah pulang dari tempat kerjanya. Ayah
selalu menceritakan hal-hal yang lucu dan ketika itu umurku 5 tahun. Aku selalu
diantarkan oleh ibu untuk menuju Taman Kanak-kanak dan ibu selalu membawa serta
mnyuapi aku makanan terbaiknya. Sampai saatnya aku akan lulus dari TK, ibu dan
ayah menyuruhku untuk menjadi pengantin laki-laki di acara perpisahan. Aku
tidak mau dan kedua orang tuaku terus membujukku hingga pada akhirnya aku pun
bersedia. Kenangan yang indah saat berada di rumah pertama ini, rumah yang
memiliki halaman kebun yang luas serta udaranya yang begitu mesra menyapa di
setiap harinya.
Rumah Pertama yang menjadi langkah
awal perjuangan untuk tetap menjalani kehidupan ini dan memahami tentang arti
keharmonisan dalam berumah tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar